Perbedaan Desain Web dan Desain Grafis

Seseorang yang ahli dalam desain grafis, belum tentu bisa menerapkan kemampuannya ketika diminta untuk mendesain sebuah web. Dalam hal keindahan, estitika, serta beberapa prinsip dasar, desain grafis dan web memiliki kesamaan.  Tetapi banyak pula perbedaannya. Berikut beberapa perbedaan antara desain web dengan desain grafis.

Media sebagai Hasil Akhir

Hasil akhir dari desain grafis biasa dicetak dalam kertas, kain, kanvas, atau media lainnya, dengan berbagai ukuran. Anda seringkali berurusan dengan ukuran kecil misalnya kartu nama, sampai pada billboard di jalan raya dengan ukuran puluhan meter. Dan hasil akhir dari desain tersebut akan kelihatan sama di mata setiap orang.

Pada desain grafis, Anda menggunakan ukuran sesuai dengan area yang akan dikerjakan, yaitu dengan satuan milimeter, centimeter, inchi, atau meter. Sampai pada proses pencetakan, setelah pemesan menyetujui hasil desain Anda, maka pekerjaan telah selesai.

Saat Anda mengerjakan sebuah desain grafis menggunakan piranti lunak pengolah citra, Anda mungkin akan mengatur resolusi layar monitor, untuk kenyamanan bekerja. Tetapi hal ini tidak akan mempengaruhi hasil akhir sebuah desain.

Media untuk desain web adalah layar monitor. Tetapi, bukan hanya layar monitor pada komputer Anda, karena Anda juga harus mampu ”melihat” jutaan layar monitor di luar sana, yang nantinya akan digunakan untuk menampilkan hasil karya Anda. Jadi seorang desainer web harus membuat karya yang terbaik untuk semua layar monitor.

Ukuran untuk area desain web adalah piksel, jadi Anda tidak harus menggunakan lagi penggaris pengukur di meja kerja. Setelah desain selesai, Anda belum bisa bersuka ria, karena harus dikodekan melalui HTML dan CSS agar dapat dilihat pada browser. Proses pengkodean dapat dikerjakan oleh Anda sendiri, atau berkerjasama dengan seorang programmer.

Selesai? Belum juga. Anda harus mencoba hasilnya dalam berbagai browser dan resolusi layar yang berbeda.

Resolusi

Resolusi adalah kualitas dari suatu gambar. Para desainer grafis tentu tak asing lagi dengan istilah dot/pixel per inch (dpi/ppi), yaitu ukuran untuk menentukan jumlah piksel dalam satu inchi gambar.

Pada desain grafis, pengatur dpi akan mengacu pada jenis media yang akan digunakan. Misalnya untuk kertas jenis art paper, resolusi yang biasa digunakan antara 300 dpi. Lain lagi dengan kertas koran dan HVS.

Karena desain web hanya akan dilihat pada layar monitor, maka pengaturan dpi sebagainya tidak lebih dari 72 dpi. Gambar dengan dpi tinggi pada desain web, akan memperlambat proses loading, dan belum tentu bisa ditampilkan dengan baik pada layar.

Jenis File Gambar

Dalam dunia desain terdapat beragam ekstensi file gambar, baik dalam bentuk vektor maupun raster. Saat bekerja dengan Photoshop, format file PSD (Photoshop Document) merupakan penyimpanan terbaik agar desain dapat diedit kembali. Tetapi untuk pencetakan, kebanyakan desainer grafis mengkonversi ke dalam format TIFF (Tagged Image Format File) karena format ini memiliki kualitas tinggi. Dalam desain grafis, asalkan suatu gambar dapat dicetak dengan baik, urusan besar file tak terlalu dipertimbangkan.

Pada desain web, bukan hanya pertimbangan kualitas, Anda juga harus mampu menghemat setiap byte dari ukuran file gambar. Hasil desain Anda nantinya akan diakses melalui internet yang menghitung lamanya proses loading berdasarkan besar file yang dimuat.

Jenis file yang digunakan pada desain web adalah:

  • GIF (Graphic Interchange Format), biasa digunakan untuk gambar yang tidak terlalu kaya warna. Gambar dalam format GIF memiliki ketajaman warna yang tinggi, termasuk menampung gambar-gambar untuk animasi. GIF juga mampu menyimpan ruang transparan.
  • JPG/JPEG (Joint Photographic Expert Group), biasa digunakan untuk gambar yang kaya warna, misalnya seperti foto. JPG/JPEG memiliki kemampuan untuk mengatur kualitas gambar yang nantinya akan berpengaruh pada ukuran file.
  • PNG (Portable Network Graphic), jenis file ini sebagai alternatif file GIF. Kelebihannya adalah mampu menyimpan gambar dalam kualitas tinggi (hingga 24 bit), serta memiliki efek transfaran yang lebih halus.

Pilihan Warna

Pemilihan warna terkadang menjadi hal yang rumit dalam proses desain. Mode warna yang paling populer adalah RGB (Red Green Blue) dan CMYK (Cyan Magenta Yellow Black)—kenapa tidak CMYB? Karena ”B” sudah didefinisikan untuk singkatan ”blue”. CMYK memiliki kualitas cetak yang tinggi dan banyak digunakan oleh desainer grafis.

Pada desain grafis, dengan mengamati hasil cetakan printer, Anda sudah bisa menentukan apakah warna telah sesuai dengan keinginan atau belum. Untuk mengidentifikasi sebuah warna, desainer biasana mengkombinasikan nilai kode untuk masing-masing mode warna.

Pada desain web, perbedaan warna tergantung pada kualitas dan pengaturan pencahayaan monitor. Pada monitor dengan kecerahan dan kontras yang berbeda, warna pun dapat berubah. Jadi perlu dipertimbangkan untuk mengatur desain agar bisa dilihat dengan baik pada berbagai monitor. Warna pada desain web diwakili dengan 6 digit nilai heksadesimal, yaitu angka 0-9  dan huruf A-F.

Jenis Huruf

Kekayaan dan variasi font yang biasa digunakan pada desain grafis, akan sedikit dipersempit pada desain web—kecuali jika huruf tersebut berbasis gambar. Teks untuk desain web akan dibuka menggunakan browser di berbagai komputer, sehingga belum tentu setiap komputer memiliki jenis huruf yang Anda gunakan.

Pada desain grafis, Anda tidak perlu khawatir bahwa sebuah brosur yang telah dicetak akan mengalami missing font saat orang membaca brosur tersebut.

Berbeda dengan cetak, font pada web akan mengacu pada jenis huruf yang telah terpasang pada komputer pengguna. Jika Anda merancang sebuah web menggunakan font Dauphin, misalnya, dan komputer pengguna tidak mimiliki font tersebut, maka browser akan menggantinya. Hal ini juga dapat menyebabkan desain yang telah dirancang seindah mungkin, menjadi tampak “mengerikan” ketika dibuka pada komputer lain.

Meski sedikit konservatif, tetapi seorang desainer web harus mengikuti aturan terhadap jenis huruf yang biasa digunakan pada dunia web, seperti Arial, Helvativa, Times New Roman, Verdana, Tahoma, Lucida, dan beberapa font lainnya.

Jika Anda keukeuh ingin memasukkan font yang lebih atraktif, ubahlah font tersebut ke dalam file gambar. Konsekuensinya, proses loading akan bertambah lama.

Teknologi

Terdapat beberapa piranti lunak yang digunakan untuk proses desain, antara lain Adobe Photoshop (yang menjadi pembahasan pada buku ini), Corel Draw, Adobe Ilustrator, dan sebagainya. Seorang desainer biasanya beralih ke piranti lunak versi terbaru untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Saat ini jarang sekali desainer yang menggunakan Photoshop 5.0 (bukan CS5), karena sudah dianggap ketinggalan jaman.

Tetapi untuk seorang desainer web, ia juga harus mengikuti perkembangan terbaru dari teknologi web, agar sebuah desain dapat diimplementasi dengan lebih efektif dan mengikuti perkembangan.

Sumber: http://daluang.com/baca/isi/perbedaan-desain-web-dan-desain-grafis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: